RETARDASI MENTAL

Retardasi mental didefinisikan dalam DSM IV TR sebagai:

(1) Fungsi intelektual yang di bawah rata-rata bersama dengan,

(2) Kurangnya perilaku adaptif; dan

(3) Terjadi sebelum usia 18 tahun.

Kriteria retardasi mental dalam DSM IV TR adalah sebagai berikut:

  1. Fungsi intelektual secara signifikan berada di bawah rata-rata, IQ kurang dari 70;
  2. Kurangnya fungsi sosial adaptif dalam minimal dua bidang berikut: Komunikasi, mengurus diri sendiri, kehidupan keluarga, keterampilan interpersonal, penggunaan sumber daya komunitas, kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri, keterampilan akademik fungsional, rekreasi, pekerjaan, kesehatan dan keamanan;
  3. Terjadi sebelum usia 18 tahun.

Komponen berikutnya adalah fungsi adaptif, yaitu merujuk pada penguasaan keterampilan masa kanak-kanak seperti:

  1. menggunakan toilet,
  2. berpakaian,
  3. memahami konsep waktu dan uang,
  4. mampu menggunakan peralatan,
  5. berbelanja,
  6. melakukan perjalanan dengan transportasi umum dan
  7. mengembangkan responsivitas sosial.

 Klasifikasi Retardasi Mental

  1. Retardasi mental ringan. Antara IQ 50-55 hingga 70. Mereka tidak selalu dapat dibedakan dengan anak-anak normal sebelum mulai bersekolah. Di usia remaja akhir biasanya mereka dapat mempelajari keterampilan akademik yang kurang lebih sama dengan level 6. Mereka dapat bekerja ketika dewasa, pekerjaan yang tidak memerlukan keterampilan yang rumit dan mereka bisa mempunyai anak
  2. Retardasi mental sedang. Antara IQ 35-40 hingga 50-55. Orang yang mengalami retardasi mental sedang dapat memiliki kelemahan fisik dan disfungsi neurologis yang menghambat keterampilan motorik yang normal, seperti memegang dan mewarnai dalam garis, dan keterampilan motorik kasar, seperti berlari dan memanjat. Mereka mampu, dengan banyak bimbingan dan latihan, berpergian sendiri di daerah lokal yang tidak asing bagi mereka. Banyak yang tinggal di institusi penampungan, namun sebagian besar hidup bergantung bersama keluarga atau rumah-rumah bersama yang disupervisi
  3. Retardasi mental berat . Antara IQ 20-25 hingga 35-40. Umumnya mereka memiliki abnormalitas fisik sejak lahir dan keterbatasan dalam pengendalian sensori motor. Sebagian besar tinggal di institusi penampungan dan membutuhkan bantuan supervisi terus menerus.

Orang dewasa yang mengalami retardasi mental berat dapat berperilaku ramah, namun biasanya hanya dapat berkomunikasi secara singkat di level yang sangat konkret. Mereka hanya dapat melakukan sedikit aktifitas secara mandiri dan sering kali terlihat lesu karena kerusakan otak mereka yang parah menjadikan mereka relatif pasif dan kondisi kehidupan mereka hanya memberikan sedikit stimulasi. Mereka mampu melakukan pekerjaan yang sangat sederhana dengan supervisi terus-menerus

Secara biologis Penyebab RM antara lain :

  1. Prenatal : Malnutrition, terinfeks penyakit ketika dalam kandungan, atau penggunaan obat-obatan serta komunikasi alkohol pada wanita hamil.
  2. Prinatal : Kesulitan dalam proses kelahiran,kekurangan oksigen selama proses persalinan.
  1. Posnatal : Infeksi atau mengalami cedera kepala.

Kapalan (1972) menyatakan bahwa penyebab RM antara lain :

  1. Kelainan kromosom meliputi down syndrom,fragile x syndrome , prader–willi syndrome dan cat-cry syndrom. A)Wanita yang terserang virus rubella ketika hamil akan mengalami infeksi maternal, sehingga akan menyebabkan malformasi kongental. B) Penyakit inklusi sitomeganik pada ibu > kematian anak,kalsifikasi sereberal, hidrosefalus >RM. C) Sifilis pada wanita hamil akan menimbulkan neuropatologis pada bayi yang menyebabkan RM. D) Taxoplasma menyebabkan RM ringan dan berat pada anakMengatasi bukan lahmudah,,makanya lebih baik menghindari RM tesebut. E) Klasifikasi retardasi mental menurut DSM-IV-TR yaitu :
  1. Kelainan genetika = fenilketonuria, gangguan RET
  2. Kelainan prenatal,antara lain:

Klasifikasi retardasi mental menurut DSM-IV-TR yaitu

  1. Retardasi mental berat sekali IQ dibawah 20 atau 25. Sekitar 1 sampai 2 %dari orang yang terkena retardasi mental.
  2. Retardasi mental berat IQ sekitar 20-25 sampai 35-40. Sebanyak 4 % dariorang yang terkena retardasi mental.
  3. Retardasi mental sedang IQ sekitar 35-40 sampai 50-55. Sekitar 10 % dariorang yang terkena retardasi mental.
  4. Retardasi mental ringan IQ sekitar 50-55 sampai 70. Sekitar 85 % dari orangyang terkena retardasi mental. Pada umunya anak-anak dengan retardasimental ringan tidak dikenali sampai anak tersebut menginjak tingkat pertamaatau kedua disekolah
By psikologi

Ketika Kecemasan Datang Menghampiri

Cemas…deg-degkan dan stress sudah pasti terjadi dan dialami oleh hampir seluruh siswa-siswa yang akan menghadapai Ujian Nasional baik ditingkat SD, SMP maupun SMA/SMK. Demikian pula yang dialami oleh siswa-siswa SMK Tekno-Sa dan MA Al-Islam Surakarta.

Oleh sebab itu, kami dari team psikologi Univesitas Setia Budi Surakarta yang dimotori oleh Pak. Sujoko dan Bu Istiana mencoba melakukan sebuah usaha untuk setidaknya mengurangi tekanan psikologis pada siswa menjelang ujian nasional dengan melakukan training motivasi yang bertemakan “Mental Building; Sebuah upaya membangun kesiapan mental guna menghadapi ujian akhir nasional”.

Dengan adanya upaya ini diharapkan siswa akan lebih tenang dalam menghadapi ujian nasional. karena dengan ketenangan soal-soal yang sulit pun akan mungkin dengan mudah untuk dapat diselesaikan oleh siswa.

Jadi yang perlu disiapkan oleh siswa untuk menghadapi ujian ini adalah 2M:  M1 adalah materi , dan M2 adalah Mental.

Selain Penguasaan materi, kesiapan mentalpun harus disiapkan oleh siswa. karena apalah artinya  sebuah kesiapan dalam bentuk materi apabila tidak diiringi dengan kesiapan mental, yang ada hanyalah rasa cemas dan takut.

So….wahai adik-adikku, yakin dan percayalah bahwa kamu bisa. karena dengan adanya keyakinan tersebut akan sangat membantu kamu dalam menghadapi ujian nasional. Ingatlah pepatah arab yang mengatakan “man jadda wa jada” barang siapa yang berusaha pasti dia bisa….Good luck.

By psikologi

TUGAS AKHIR KP/II


1. Depresi (kelas E)
a.Definisi depresi
b.Perspektif tentang depresi
c.Mekanisme terjadinya depresi.
d.Bentuk-bentuk depresi.
e.Cara menangani dan atau mengurangi tekanan depresi.
f.Dll.
2. Gangguan kejiwaan (kelas C)
a.Definisi gangguan kejiwaan
b.Perspektif tentang Gangguan kejiwaan
c.Mekanisme terjadinya Gangguan kejiwaan .
d.Bentuk-bentuk / jenis-jenis Gangguan kejiwaan .
e.Cara menangani dan atau mengurangi Gangguan kejiwaan .
f.Dll.
3. Perilaku Maladaftif
a.Definisi perilaku maladaftif
b.Perspektif tentang Perilaku Maladaftif
c.Mekanisme terjadinya Perilaku Maladaftif .
d.Bentuk-bentuk / jenis-jenis Perilaku Maladaftif .
e.Cara menangani dan atau mengurangi Perilaku Maladaftif .
f.Dll.
KETENTUAN
1. Kertas A4
2. Spasi 1,5
3. Margin 4,4,3,3.
4. Font times new roman 12
5. Tugas dibuat dalam bentuk ppt dan doc.
6. Tugas yang berbentuk DOKUMEN dikumpul saat UAS berlangsung
7. Tugas yang berbentuk PPT di email kan paling lambat 1 hari setelah UAS mata kuliah psikologi.
Catatan:
* Tolong dibuat serapi mungkin
** Daftar referensi jangan lupa dicantumkan.
By psikologi

Membentuk Karakter Anak Dalam Keluarga Muslim Jawa

 
Membentuk karakter, merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh pada lingkungan yang berkarakter pula dan pendidikan karakter ini harus dimulai sejak usia dini bahkan sejak anak masih dalam kandungan. Pendidikan karakter ini merupakan sebuah sistem yang digunakan untuk menamamkan nilai-nilai karakter kepada anak usia sekolah yang dimana nilai-nilai tersebut memiliki komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, maupun kepada bangsa sehingga akan terwujud menjadi manusia insan kamil.
Menurut Kemdiknas ada 18 nilai karakter yang harus ditanamkan kepada anak: 1) Religious, 2) Jujur, 3) Toleransi, 4) Disiplin, 5) Kerja keras, 6) Kreatif, 7) Mandiri, 8) Demokratis, 9) Rasa ingin tahu, 10) Semangat kebangsaan, 11) Cinta tanah air, 12) Menghargai prestasi, 13) Bersahabat/komunikatif, 14) Cinta damai, 15) Gemar membaca, 16) Peduli lingkungan, 17) Peduli sosial, 18) Tanggungjawab (www.perpustakaan.kemdiknas.go.id/download/PendidikanKarakter).
Delapanbelas nilai-nilai karakter ini memang saat ini semakin jarang ditemukan ditengah-tengah masyarakat kita, tidak terkecuali anak sebagai bagian dari masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya kasus-kasus penipuan, korupsi, tawuran antar pelajar, seks bebas, narkoba, konflik-konflik dimasyarakat dan aksi-aksi anarkisme lainnya. Hal ini diperparah lagi dengan semakin jauhnya masyarakat dan anak-anak kita dari nilai-nilai spiritual.
Kondisi diatas sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Djaenudin (2009) bahwa pendidikan karakter ini muncul dengan dilatarbelakangi oleh beberapa keadaan:
1. Dunia yang sedang mengalami perubahan Di tengah perubahan itu tampak melemahnya penegakan disiplin dan peraturan, sehingga apa yang benar dan apa yang salah tidak jelas. Dengan kata lain, batas-batas moral menjadi kabur.
2. Meningkatnya sikap egoism dan pelanggaran terhadap hak-hak orang dengan melakukan kekerasan terhadap orang lain. Perselisihan paham dan sikap mau menang sendiri, berkembang menjadi pertengkaran dan perkelahian. Kesalahan kecil antara dua orang, yang tidak terselesaikan, berkembang menjadi perkelahian antar kelompok/warga dan perusakan milik orang-orang di sekitarnya.
3. Sikap anak yang berubah. Selain kedua alasan di atas, alasan yang lebih penting adalah banyaknya keluhan ketika terjadi interaksi antara orang tua dan guru tentang anak. Banyak orang tua melaporkan anaknya enggan pergi ke sekolah, anak takut maju ke depan kelas ketika mendapat giliran atau anak tidak ada kemauan untuk belajar. Guru menyatakan bahwa banyak anak kurang menunjukkan kesungguhan dalam belajar dan kurang berusaha, terlambat datang, sering tidak membuat tugas, menyontek, kurang ramah, angkuh, meremehkan, bersikap kurang ajar, menentang dan berkecenderungan balas dendam, kurang tegar dan tangguh dalam menghadapi tekanan.
Tabroni (2010) menambahkan bahwa pendidikan karakter saat ini menjadi penting utnuk disampaikan mengingat:
1) Memudarnya Nasionalisme dan Jati Diri Bangsa,
2) Mentalitas Bangsa yang Buruk,
3) Merosotnya Harkat dan Martabat Bangsa,
4) Krisis multidimensional. Menjadikan anak didik berkarakter merupakan tugas yang berat dan tugas berat ini tidaklah mampu kalau hanya diemban oleh para pendidik yang ada di sekolah.
Menurut Saliman (2011) untuk membentuk karakter ini, ada tiga hal yang berlangsung secara terintegrasi. Pertama, anak mengerti baik dan buruk, mengerti tindakan apa yang harus diambil, mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik. Kedua, mempunyai kecintaan terhadap kebajikan, dan membenci perbuatan buruk. Kecintaan ini merupakan obor atau semangat untuk berbuat kebajikan. Ketiga, anak mampu melakukan kebajikan, dan terbiasa melakukannya Pendidikan berkarakter ini semestinya diberikan sejak dini melalui pendidikan dalam keluarga. Dalam hal ini peran orang tua sangat diperlukan dalam mencetak generasi-generasi yang berkarakter ini.
 
Bersambung….
By psikologi

Komunikasi Efektif Dokter-Pasien

Komunikasi Efektif Dokter-Pasien

Komunikasi efektif diharapkan dapat mengatasi kendala yang ditimbulkan oleh kedua pihak, pasien dan dokter. Opini yang menyatakan bahwa mengembangkan komunikasi dengan pasien hanya akan menyita waktu dokter, tampaknya harus diluruskan. Sebenarnya bila dokter dapat membangun hubungan komunikasi yang efektif dengan pasiennya, banyak hal-hal negatif dapat dihindari. Dokter dapat mengetahui dengan baik kondisi pasien dan keluarganya dan pasien pun percaya sepenuhnya kepada dokter. Kondisi ini amat berpengaruh pada proses penyembuhan pasien selanjutnya.

Pasien merasa tenang dan aman ditangani oleh dokter sehingga akan patuh menjalankan petunjuk dan nasihat dokter karena yakin bahwa semua yang dilakukan adalah untuk kepentingan dirinya. Pasien percaya bahwa dokter tersebut dapat membantu menyelesaikan masalah kesehatannya.

Kurtz (1998) menyatakan bahwa komunikasi efektif justru tidak memerlukan waktu lama. Komunikasi efektif terbukti memerlukan lebih sedikit waktu karena dokter terampil mengenali kebutuhan pasien (tidak hanya ingin sembuh). Dalam pemberian pelayanan medis, adanya komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien merupakan kondisi yang diharapkan sehingga dokter dapat melakukan manajemen pengelolaan masalah kesehatan bersama pasien, berdasarkan kebutuhan pasien.

Tujuan dari komunikasi efektif antara dokter dan pasiennya adalah untuk mengarahkan proses penggalian riwayat penyakit lebih akurat untuk dokter, lebih memberikan dukungan pada pasien, dengan demikian lebih efektif dan efisien bagi keduanya (Kurtz,1998).

 Menurut Kurzt (1998), dalam dunia kedokteran ada dua pendekatan komunikasi yang digunakan:

  1. Disease centered communication style atau doctor centered communication style. Komunikasi berdasarkan kepentingan dokter dalam usaha menegakkan diagnosis, termasuk penyelidikan dan penalaran klinik mengenai tanda dan gejala-gejala.
  2. Illness centered communication style atau patient centered communication style. Komunikasi berdasarkan apa yang dirasakan pasien tentang penyakitnya yang secara individu merupakan pengalaman unik. Di sini termasuk pendapat pasien, kekhawatirannya, harapannya, apa yang menjadi kepentingannya serta apa yang dipikirkannya.

 Dengan kemampuan dokter memahami harapan, kepentingan, kecemasan, serta kebutuhan pasien, patient centered communication style sebenarnya tidak memerlukan waktu lebih lama dari pada doctor centered communication style.

Keberhasilan komunikasi antara dokter dan pasien pada umumnya akan melahirkan kenyamanan dan kepuasan bagi kedua belah pihak, khususnya menciptakan satu kata tambahan bagi pasien yaitu empati. Empati itu sendiri dapat dikembangkan apabila dokter memiliki ketrampilan mendengar dan berbicara yang keduanya dapat dipelajari dan dilatih.

Carma L. Bylund & Gregory Makoul dalam tulisannya tentang Emphatic Communication in Physician-Patient Encounter (2002), menyatakan betapa pentingnya empati ini dikomunikasikan. Dalam konteks ini empati disusun dalam batasan definisi berikut:

  1. Kemampuan kognitif seorang dokter dalam mengerti kebutuhan pasien (a physician cognitive capacity to understand patient’s needs),
  2. Menunjukkan afektifitas/sensitifitas dokter terhadap perasaan pasien (an affective sensitivity to patient’s feelings),
  3. Kemampuan perilaku dokter dalam memperlihatkan/menyampaikan empatinya kepada pasien (a behavioral ability to convey empathy to patient).

Dari berbagai sumber…

 

 Referensi:

Carma, L. Bylund & Gregory Makoul, Patient Education & Counseling 48 (2002) 207-  216

Kurtz, S., Silverman, J. & Drapper, J. (1998). Teaching and Learning Communication Skills in Medicine. Oxon: Radcliffe Medical Press.

By psikologi

Oyo…Kenali Tulisan Tangan Anda

 
GRAFOLOGI-pseudoscience
  1.  Kalau tulisan anda besar. Anda gemar berpikir muluk-muluk. Anda adalah orang yang   senang diperhatikan
  2. Kalau tulisan anda kecil. Anda tertarik sama hal-hal detail, dan anda tidak suka     diperhatikan banyak orang
  3. Kalau tulisan anda miring ke kanan. Anda gemar menunjukkan perasaan anda. Anda     suka bergaul, aktif dan terus bergerak
  4. Kalau tulisan anda miring ke kiri. Anda suka menyimpan emosi. Anda kurang suka     keluar dan menghadapi dunia
  5. Kalau tulisan anda miring ke atas. Berarti anda optimis
  6. Kalau tulisan anda miring ke bawah. Anda capai atau sedih karena suatu hal
  7. Kalau tulisan anda tegak lurus. Anda netral dan tidak emosional tentang berbaga  masalah. Anda bisa mengandalkan diri sendiri, tenang dan bisa mengendalikan diri
  8. Kalau tulisan anda miring ke segala arah. Anda adalah orang yang sulit diramalkan.     Anda belum memutuskan kemana arah tujuan anda dalam hidup (Biasanya dimiliki oleh     remaja)
  9. Kalau tulisan anda sempit. Anda cenderung ekonomis dan punya pandangan yang     “sempit” terhadap berbagai masalah.
  10. Kalau tulisan anda lebar, anda sepertinya memiliki kecenderungan untuk sulit bisa     diatur dalam peraturan, hukum, norma. Anda merasa terus menerus membutuhkan     ruangan untuk bergerak dan berpikir dengan bebas.
  11. Kalau tulisan anda gelap (nulisnya terlalu menekan), anda adalah seseorang yang     bertekad bulat dan tertarik bwat melakukan sesuatu. Bisa jadi ini karena anda merasa     dibawah tekanan buat menyelesaikan semua masalah
  12. Kalau tulisan anda ringan (soalnya nulisnya nggan nekan), anda adalah seseorang     yang nggak suka kekerasan, suara-suara keras, dan sinar terang. Anda sensitif, halus     dan cepat mengerti
  13. Kalau huruf-huruf anda nggak nyambung. Ini berarti anda orangnya berkonsentrasi     pada detail, dan bukan gambar keseluruhan, anda punya ide-ide original
  14. Kalau huruf-huruf anda nyambung, anda berarti menyukai logika dan aturan. Anda     pandai dalam memahami hubungan dan bagaimana semua hal saling berhubungan
  15. Kalau tulisan anda renggang-renggang, ini artinya anda butuh ruangan. Kadang-     kadang anda tampak tersingkir. Anda berpikir jernih dan punya pikiran yang nggak     macem macem
  16. Kalau tulisan anda dempet-dempet, anda adalah orang yang suka sekali bergauol     dan suka berkumpul dengan banyak orang.
  17. Kalau anda punya cara nggak biasa dalam mencoret huruf ‘t’ dan memberi titik     pada huruf ‘i’, berarti anda orang yang kreatif
  18. Kalau huruf-huruf yang seharusnya tertutup -seperti ‘a’, ‘b’, ‘d’, ‘o’ dan ‘p’-     dalam tulisan anda terbuka, anda orang yang berpikiran terbuka.

19. Arah kemiringan huruf

  • Ke kanan = ekspresif, emosional
  • Tegak = menahan diri, emosi sedang
  • Ke kiri = menutup diri

20 . Bentuk umum huruf-huruf

  • Bulat atau melingkar = alami, easygoing
  • Bersudut tajam = agresif, to the point, energi kuat
  • Bujursangkar = realistis, praktek berdasar pengalaman
  • Coretan tak beraturan = artistik, tidak punya standar
21. Huruf-huruf bersambung atau tidak
  • Bersambung seluruhnya = sosial, suka bicara dan bertemu dengan orang banyak
  • Sebagian bersambung sebagian lepas = pemalu, idealis yang agak sulit membina hubungan (terlebih hubungan spesial).
  • Lepas seluruhnya = berpikir sebelum bertindak, cerdas, seksama
22. Spasi antar kata
  • Berjarak tegas = suka berbicara (mungkin orang yang selalu sibuk?)
  • Rapat/Seolah tidak berjarak = tidak sabaran, percaya diri dan cepat bertindak
23. Jarak vertikal antar baris tulisan
  • Sangat jauh = terisolasi, menutup diri, bahkan mungkin anti sosial
  • Cukup berjarak sehingga huruf di baris atas tidak bersentuhan dengan baris di bawahnya = boros, suka bicara
  • Berjarak rapat sehingga ujung bawah huruf ‘y’, ‘g’, menyentuh ujung atas huruf ‘h’, ‘t’ = organisator yang baik
24. Interpretasi huruf ‘t’
  • Letak palang (-) pada kail ‘t’
    - Cenderung ke kiri = pribadi waspada, kurang percaya pd semua hal
    - Tepat di tengah = pribadi yg kurang orisinil tapi sangat bertanggung jawab (kemungkinan cocok dalam bidang manajemen)
    - Cenderung ke kanan = pribadi handal, teliti, mampu memimpin
  • Panjang kail ‘t’ menunjukkan kemampuan potensial untuk mencapai target.
    Tinggi-rendah palang (-) pada kail ‘t’:
    - Rendah = setting target lebih rendah dari kemampuan sebenarnya (kurang percaya diri atau pemalas)
    - Tinggi = setting target tinggi tapi juga diimbangi oleh kemampuan
    - Di atas kail = setting target lebih tinggi dibanding kemampuan
25. Arah tulisan pada kertas
  • Naik/menanjak = energik, optimis, tegas
  • Tetap/lurus = perfeksionis, sulit bergaul
  • Turun = seorang yang tertekan atau lelah, kemungkinan menutup diri
26. Tekanan saat menulis
  • Makin kuat tekanan, makin besar intensitas emosional penulisnya.
 
Grafologi sama sekali tidak berkaitan dengan hal mistik, melainkan saintifik. Tulisan tangan adalah ‘tulisan otak’ penulisnya. Namun untuk menjadi seorang ahli grafologi yang benar-benar mahir dan tepat tentu butuh pengalaman bertahun-tahun.
 
By psikologi

Tesis Ku

HUBUNGAN ANTARA KELUARGA BROKEN HOME, POLA ASUH ORANG TUA DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN KENAKALAN REMAJA

By. Sujoko, S.Psi, S.Pd.I, M.Si

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Setia Budi Surakarta

 ABSTRAK

Masa transisi remaja dapat menimbulkan masa krisis yang biasanya ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku-perilaku menyimpang atan kenakalan (Juvenile Delinquency).

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk; (1) mengetahui secara empirik hubungan antara keluarga broken home, pola asuh orang tua dan interaksi teman sebaya dengan kenakalan remaja. (2) mengetahui sumbangan efektif keluarga broken home, pola asuh orang tua dan interaksi teman sebaya terhadap kenakalan remaja.

Populasi penelitian ini adalah siswa-siswi SMK Tekno-SA Surakarta dengan jumlah sampel sebanyak 119 siswa. Sampel penelitian ini diambil dengan menggunakan cluster random sampling. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan yaitu skala kenakalan remaja, skala keluarga broken home, skala pola asuh orang tua dan skala interaksi teman sebaya. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi ganda untuk menguji hipotesis pertama dan analisis regresi partial untuk menguji hipotesis kedua.

Berdasarkan hasil analisis diketahui R = 0,429; F = 8,623; dan R2= 0,184 dengan p = 0,000 (p<0,01). Hasil ini menunjukkan bahwa ada korelasi positif yang sangat signifikan antara keluarga broken home, pola asuh orang tua dan interaksi teman sebaya terhadap kenakalan remaja dan variabel-variabel ini memberikan sumbangan efektif sebesar 18,4 % terhadap variabel kenakalan remaja. Keluarga broken home memberikan sumbangan efektif sebesar 7,8%, pola asuh orang tua memberikan sumbangan efektif sebesar 8,5% dan interaksi teman sebaya memberikan sumbangan efektif sebesar  5,6%.

Kata kunci       : Broken home, pola asuh orang tua, interaksi teman sebaya dan kenakalan remaja.

Download naskah publikasi

By psikologi

MENTAL BUILDING

MENTAL BUILDING;

“Sebuah Upaya Membangun Kesiapan Mental Guna Menghadapi Ujian Akhir Nasional”

Ujian Akhir Nasional tinggal beberapa hari lagi. Bagi kita mungkin tidak terlalu bermasalah dan mungkin kita akan menganggap tidak ada yang sepesial pada hari tersebut. Namun bagi para pelajar, hari tersebut adalah hari yang mungkin paling menegangkan. Sehingga Ujian Akhir Nasional yang tinggal beberapa hari ini menjadi hari yang paling dinanti-nanti kedatangannya. Terlepas mereka menanti dengan penuh harapan karena akan naik ke jejang pendidikan yang lebih tinggi atau menanti dengan penuh kecemasan karena takut kalau-kalau tidak lulus.

 Berkaitan dengan Ujian Akhir Nasional ini, setidaknya ada 2 (dua ) sikap yang ditunjukkan oleh para pelajar, yaitu sikap pesimistik dan sikap optimistik. Bagi kelompok pesimistik, Ujian Akhir Nasional ini merupakan momok yang sangat menakutkan bagi mereka. Karena ujian inilah yang akan menentukan mereka LULUS atau TIDAK. Sehingga sebagai konsekuensinya, mereka akan menjadi lebih cemas dan takut untuk menghadapinya. Kecemasan-kecemasan dan ketakutan-ketakutan yang dirasakan oleh para pelajar tersebut perlu diwaspadai, karena kecemasan dan ketakutan tersebut jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi boomerang yang mematikan bagi para pelajar.

 Santoso (2007) dalam bukunya “The Art Of Life Revolution” mengatakan, jika seseorang selalu memikirkan ketakutan dan kekhawatiran, maka semua ketakutan dan kekhawatiran yang dia pikirkan tersebut akan tertarik masuk kedalam alam bawah sadarnya dan dia akan menjadi orang yang hidup dengan penuh ketakutan dan kekhawatiran sebagaimana yang dia pikirkan. Namun, jika seseorang selalu memikirkan kesuksesan dan keberhasilan, maka segala bentuk kesuksesan dan keberhasilan yang dia pikirkan tersebut akan tertarik masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Sehingga dia benar-benar menjadi orang yang hidup dengan penuh kesuksesan dan keberhasilan.

 Setidaknya inilah yang perlu diwaspadai dari kelompok pesimistik, karena jika kekhawatiran dan kecemasan-kecemasan ini terus menghantui mereka, maka sudah bisa dipastikan mereka akan mengalami banyak kegagalan dalam menghadapi Ujian Akhir Nasional tersebut. Namun sebenarnya solusi untuk penganut kelompok pesimistik ini cukup sederhana. Santoso (2007) menawarkan beberapa resep yang dapat membantu mereka keluar dari kecemasan-kecemasan serta ketakutan-ketakuan tersebut; yaitu dengan cara membuang pemikiran-pemikiran yang membelenggu mereka, seperti merasa diri tidak mampu, merasa diri bodoh, lemah dan prasangka-prasangka negatif lainnya. Jika belenggu-belenggu ini dibuang dari pikiran-pikiran pada pelajar, maka ini akan sangat membantu mereka dalam menghadapi Ujian Akhir Nasional. Sementara untuk kelompok optimistik sendiri tidak perlu dikhawatirkan, mereka hanya memerlukan bimbingan dan pengawasan lebih lanjut dari para pendidik dan orang tua. Yang jelas ”yakinlah bahwa kalian bisa dan mampu dan yakinlah bahwa kalian akan lulus dalam ujian ini, karena inilah kunci kesuksesan kalian”.

Posted by. Psikologi

By psikologi

Psikologi Faal

Pengantar Psikologi Faal

 A. Pengertian

PSIKOLOGI FAAL, berasal dari Psikologi dan Ilmu Faal. PSIKOLOGI adalah Ilmu yang mempelajari perilaku manusia (Bigot, dkk, 1950), sedangkan ILMU FAAL adalah Ilmu yang mempelajari tentang fungsi dan kerja alat-alat dalam tubuh.]adi Psikologi Faal adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan fungsi dan kerja alat-alat dalam tuhuh. Dalam mempelajari perilaku manusia kita mengenal adanya 3 fungsi utama yang mempengaruhi perilaku individu, yaitu: 1) fungsi kognisi (pikiran), 2) jungsi afeksi (emosi) 3) fungsi konasi (kemauan l kehendak). Dalam Psikologi Faal, titik berat perhatian kita adalah meninjau kondisi faali atau kondisi biologis yang mempengaruhi fungsi-fungsi perilaku tersebut.

Sebelum kita dapat memahami fungsi dan kerja alat-alat tubuh yang mempengaruhi perilaku seseorang, lebih dahulu kita perlu mengenal anatomi alat-alat tubuh. ANATOMI adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari susunan atau struktur alat-alat tubuh. Oleh karena itu dalam Psikologi Faal, selain kita belajar fungsi dan kerja alat-alat tubuh yang mempengaruhi perilaku, kitajuga akan mengenal anatomi dari alat-alat tubuh.

Jadi dalam Psikologi Faal akan dipelajari:

1. Alat-alat yang bekerja pada waktu fungsi kognitif, afektif, dan konasi berlangsung

2. Proses-proses yang berlangsung pada alat-alat tubuh tersebut

Menurut fungsinya, alat-alat tubuh dibagi dalam empat kelompok, yaitu:

1. Alat-alat untuk Pertukaran Zat

2. Alat-alat untuk Reproduksi

3. Alat-alat untuk Gerak

4. Alat-alat untuk Koordinasi

Meskipun dibagi atas kelompok-kelompok seperti tersebut diatas, namun fungsi dari kelompok-kelompok tersebut berkaitandengan erat. Contohkonkritnyadapat kita simak dari uraian berikut ini; Organisme perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan atau bereaksi terhadap perubahandi dalam lingkungan untuk mempertahankan hidup (antara lain digunakan alat-alat untuk reproduksi dan alat-alat gerak). Untuk melakukan kegiatan-kegiatan dalam mempertahankan hidup ia memerlukan alat-alat koordinasi, tanpa alat-alat koordinasi tidak dapat terjadi koordinasi antara alat-alat tubuh dan tidak dapat terjadi penyesuaian dengan lingkungan atau reaksi terhadap perubahan dalam lingkungan, sedangkanalat-alat koordinasi memerlukan alat-alat pertukaran zat agar dapat berfungsi.

Yang termasuk dalam alat-alat koordinasi adalah:

1. Alat-alat Indera

2. Susunan Saraf Pusat

3. Susunan Saraf Perifer

4. Alat-alat Endokrin

Alat-alat tersebut bekerja pada saat dilakukan fungsi kognitif, afektif, maupun konasi. Oleh karena itu dalam Psikologi Faal ini titik beratkita pada alat-alat koordinasi, karena tanpa alat-alat koordinasi tidak dapat terjadi koordinasi antara, alat-alat tubuh dan tidak dapat terjadi penyesuaian dengan lingkungan atau reaksi terhadap perubahan dalam lingkungan.

 

B. PENDEKATANBIOPSIKOLOGI

BIOPSIKOLOGI adalah cabang dari Ilmu Saraf yang berkaitan dengan segi biologis dari perilaku. Beberapa ahli menyebutnya dengan “psikobiologi” atau “perilaku biologis” atau “Behavioral Neuroscience” karena menitik beratkan pada pendekatan biologi dalam memahami psikologi. Jadi Psikologi Faal dalam perkembangan baru juga disebut dengan BIOPSIKOLOGI.

Sejak Psikologi lahir, pendekatan secarsa biopsikologi secara implisit sudah diungkapkan, namun secara eksplisit baru muncul pada karya D.O Hebb (1949), “Organization of Behavior”. Dalam karyanya tersebut, Hebb mengemukakan teori yangkomprehensif tentang fenomena psikologi yang berkaitan dengan persepsi, emosi, pikiran dan memori yang mungkin dikontrol melalui aktivitas otak. Teori tersebut merupakan salah satu dasar yang penting dalam menguraikan dan mengkonkritkan pembahasan tentang perilaku manusia yang kompleks dan kasat mata.

Meskipun BIOPSIKOLOGI tergolong ilmu yang masih muda, namun ia memiliki perkembangan yang cepat dan memiliki kaitan yang erat dengan disiplin ilmu yang lain, diantaranya:

1. Biological Psychiatry, membahas tentang biologi yamg berkaitan dengan penyimpangan psikiatris dan perlakuan (treatment) terhadap penyimpangan tersebut melalui manipulasi otak.

2. Developmental Neurobiology, membahas tentang perubahan sistem saraf sejalan dengan kemasakan dan usia; neurobiology biasa juga disebut dengan neuroscience

3. Neuroanatomy, mempelajari tentang struktur atau anatomi sistem saraf

4. Neurochemistry, mempelajari proses-proses kimiawi yang muncul akibat aktivitas saraf, terutama proses yang mendasari transmisi sinyal melalui sel-sel saraf

5. Neuroendocrinology, mempelajari interaksi antara sistem saraf dengan kelenjar-kelenjar endokrin dan hormon-hormon yang diproduksinya

6. Neuroethology, mempelajari kaitan antara sistem saraf dan perilaku yang muncul dalam lingkungan alami hewan dan dalam lingkungan laboratorium yang dikontrol ketat

7. Neuropathology, mempelajari penyimpangan sistem saraf

8. Neuropharmacology, mempelajari efek obat-obatan pada sistem saraf, terutama yang mempengaruhi transmisi sel saraf

9. Neurophysiology, mempelajari respon sistem saraf, terutama yang terlibat dalam transmisi sinyal elektronik melalui sel-sel saraf dan antara sel-sel saraf

Bersambung……..

By psikologi

PERKEMBANGAN

Psikologi Remaja

Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).

Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.

Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.

Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.

Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).

Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu: (1) perkembangan fisik, (2) perkembangan kognitif, dan (3) perkembangan kepribadian dan sosial.

Aspek-aspek perkembangan pada masa remaja
Perkembangan fisik
Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).

Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.

Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).

Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.

Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001).

Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Yang dimaksud dengan egosentrisme di sini adalah “ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain” (Papalia dan Olds, 2001). Elkind (dalam Beyth-Marom et al., 1993; dalam Papalia & Olds, 2001) mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fabel.

Personal fabel adalah “suatu cerita yang kita katakan pada diri kita sendiri mengenai diri kita sendiri, tetapi [cerita] itu tidaklah benar” . Kata fabel berarti cerita rekaan yang tidak berdasarkan fakta, biasanya dengan tokoh-tokoh hewan. Personal fabel biasanya berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya. Papalia dan Olds (2001) dengan mengutip Elkind menjelaskan “personal fable” sebagai berikut :

“Personal fable adalah keyakinan remaja bahwa diri mereka unik dan tidak terpengaruh oleh hukum alam. Belief egosentrik ini mendorong perilaku merusak diri [self-destructive] oleh remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya. Misalnya seorang remaja putri berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil [karena perilaku seksual yang dilakukannya], atau seorang remaja pria berpikir bahwa ia tidak akan sampai meninggal dunia di jalan raya [saat mengendarai mobil], atau remaja yang mencoba-coba obat terlarang [drugs] berpikir bahwa ia tidak akan mengalami kecanduan. Remaja biasanya menganggap bahwa hal-hal itu hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya”.

Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993). Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.

Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri invulnerable menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang dewasa adalah sama.

Perkembangan kepribadian dan sosial
Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).

Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.

Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).

Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).

Ciri-ciri Masa Remaja
Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.

  1. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.
  2. Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
  3. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
  4. Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.
  5. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.

Tugas perkembangan remaja
Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara lain :

  • memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan
  • memperoleh peranan sosial
  • menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif
  • memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
  • mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri
  • memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan
  • mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga
  • membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup

Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).

Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.

Beberapa isu perkembangan remaja: seksualitas, harga diri, orientasi masa depan, konsumsi, keluarga
Sumber Pustaka

Aaro, L.E. (1997). Adolescent lifestyle. Dalam A. Baum, S. Newman J. Weinman, R. West and C. McManus (Eds). Cambridge Handbook of Psychology, Health and Medicine (65-67). Cambridge University Press, Cambridge.

Beyth-Marom, R., Austin, L., Fischhoff, B., Palmgren, C., & Jacobs-Quadrel, M. (1993). Perceived consequences of risky behaviors: Adults and adolescents. Journal of Developmental Psychology, 29(3), 549-563

Conger, J.J. (1991). Adolescence and youth (4th ed). New York: Harper Collins

Deaux, K.,F.C,and Wrightman,L.S. (1993). Social psychology in the ‘90s (6th ed.). California : Brooks / Cole Publishing Company.

Gunarsa, S.D. (1988). Psikologi remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Gunarsa, S.D. (1990). Dasar dan teori perkembangan anak. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Hurlock, E. B. (1990). Developmental psychology: a lifespan approach. Boston: McGraw-Hill.

Hurlock, E. B. (1973). Adolescent development. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha.

Monks, F.J., Knoers, A. M. P., Haditono, S. R. (1991) Psikologi perkembangan : Pengantar dalam berbagai bagiannya (cetakan ke-7). Yogya: Gajah Mada University Press.

Papalia, D E., Olds, S. W., & Feldman, Ruth D. (2001). Human development (8th ed.). Boston: McGraw-Hill

Rice, F.P. (1990). The adolescent development, relationship & culture (6th ed.). Boston: Ally & Bacon

Santrock, J.W. (2001). Adolescence (8th ed.). North America: McGraw-Hill.

By psikologi