Membentuk Karakter Anak Dalam Keluarga Muslim Jawa

 
Membentuk karakter, merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh pada lingkungan yang berkarakter pula dan pendidikan karakter ini harus dimulai sejak usia dini bahkan sejak anak masih dalam kandungan. Pendidikan karakter ini merupakan sebuah sistem yang digunakan untuk menamamkan nilai-nilai karakter kepada anak usia sekolah yang dimana nilai-nilai tersebut memiliki komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, maupun kepada bangsa sehingga akan terwujud menjadi manusia insan kamil.
Menurut Kemdiknas ada 18 nilai karakter yang harus ditanamkan kepada anak: 1) Religious, 2) Jujur, 3) Toleransi, 4) Disiplin, 5) Kerja keras, 6) Kreatif, 7) Mandiri, 8) Demokratis, 9) Rasa ingin tahu, 10) Semangat kebangsaan, 11) Cinta tanah air, 12) Menghargai prestasi, 13) Bersahabat/komunikatif, 14) Cinta damai, 15) Gemar membaca, 16) Peduli lingkungan, 17) Peduli sosial, 18) Tanggungjawab (www.perpustakaan.kemdiknas.go.id/download/PendidikanKarakter).
Delapanbelas nilai-nilai karakter ini memang saat ini semakin jarang ditemukan ditengah-tengah masyarakat kita, tidak terkecuali anak sebagai bagian dari masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya kasus-kasus penipuan, korupsi, tawuran antar pelajar, seks bebas, narkoba, konflik-konflik dimasyarakat dan aksi-aksi anarkisme lainnya. Hal ini diperparah lagi dengan semakin jauhnya masyarakat dan anak-anak kita dari nilai-nilai spiritual.
Kondisi diatas sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Djaenudin (2009) bahwa pendidikan karakter ini muncul dengan dilatarbelakangi oleh beberapa keadaan:
1. Dunia yang sedang mengalami perubahan Di tengah perubahan itu tampak melemahnya penegakan disiplin dan peraturan, sehingga apa yang benar dan apa yang salah tidak jelas. Dengan kata lain, batas-batas moral menjadi kabur.
2. Meningkatnya sikap egoism dan pelanggaran terhadap hak-hak orang dengan melakukan kekerasan terhadap orang lain. Perselisihan paham dan sikap mau menang sendiri, berkembang menjadi pertengkaran dan perkelahian. Kesalahan kecil antara dua orang, yang tidak terselesaikan, berkembang menjadi perkelahian antar kelompok/warga dan perusakan milik orang-orang di sekitarnya.
3. Sikap anak yang berubah. Selain kedua alasan di atas, alasan yang lebih penting adalah banyaknya keluhan ketika terjadi interaksi antara orang tua dan guru tentang anak. Banyak orang tua melaporkan anaknya enggan pergi ke sekolah, anak takut maju ke depan kelas ketika mendapat giliran atau anak tidak ada kemauan untuk belajar. Guru menyatakan bahwa banyak anak kurang menunjukkan kesungguhan dalam belajar dan kurang berusaha, terlambat datang, sering tidak membuat tugas, menyontek, kurang ramah, angkuh, meremehkan, bersikap kurang ajar, menentang dan berkecenderungan balas dendam, kurang tegar dan tangguh dalam menghadapi tekanan.
Tabroni (2010) menambahkan bahwa pendidikan karakter saat ini menjadi penting utnuk disampaikan mengingat:
1) Memudarnya Nasionalisme dan Jati Diri Bangsa,
2) Mentalitas Bangsa yang Buruk,
3) Merosotnya Harkat dan Martabat Bangsa,
4) Krisis multidimensional. Menjadikan anak didik berkarakter merupakan tugas yang berat dan tugas berat ini tidaklah mampu kalau hanya diemban oleh para pendidik yang ada di sekolah.
Menurut Saliman (2011) untuk membentuk karakter ini, ada tiga hal yang berlangsung secara terintegrasi. Pertama, anak mengerti baik dan buruk, mengerti tindakan apa yang harus diambil, mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik. Kedua, mempunyai kecintaan terhadap kebajikan, dan membenci perbuatan buruk. Kecintaan ini merupakan obor atau semangat untuk berbuat kebajikan. Ketiga, anak mampu melakukan kebajikan, dan terbiasa melakukannya Pendidikan berkarakter ini semestinya diberikan sejak dini melalui pendidikan dalam keluarga. Dalam hal ini peran orang tua sangat diperlukan dalam mencetak generasi-generasi yang berkarakter ini.
 
Bersambung….
By psikologi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s